https://www.zeverix.comsmm indonesiakencang77smm panel termurahsmm panel terbaikreseller smm panelsmm panel indonesiakencang77Analisis Pola Interaksi Pengguna Ekosistem Hiburan Digital CloudEvaluasi Sistem Rekomendasi Konten Machine Learning Big DataPeran Arsitektur Data Pengalaman Hiburan Interaktif ImmersifStudi Komparatif Algoritma Pengacakan Platform Digital Monte CarloOptimasi User Interface Retensi Pengguna Berbasis PerilakuPendekatan Analitik Prediktif Tren Hiburan Digital Masa DepanTransformasi Infrastruktur Teknologi Ekosistem Hiburan Digital Skala BesarKecerdasan Buatan Analisis Keputusan Pengguna Platform DigitalDigitalisasi Pengalaman Hiburan Sistem Adaptif Berbasis AIEvaluasi Keandalan Sistem RNG Platform Digital ModernPenggunaan Data Telemetri Pola Sesi Pengguna Platform DigitalArsitektur Microservices Skalabilitas Industri Hiburan Digital KontemporerAnalisis Sentimen Pengguna Fitur Interaktif Platform Hiburan DigitalPeran Enkripsi Keamanan Data Kepercayaan Pengguna DigitalPendekatan Data-Driven Optimasi Navigasi Pengalaman Pengguna DigitalEfektivitas Gamifikasi Meningkatkan Engagement Pengguna DigitalAnalisis Komparatif Efisiensi Algoritma Sistem Hiburan DigitalPeran Big Data Deteksi Pola Perilaku Pengguna Platform DigitalInovasi Blockchain Potensi Ekosistem Hiburan Digital Masa DepanPendekatan Sistem Dinamis Feedback Loop Pengguna Platform Digitalhttps://indobooster.com/page/contoh-pengisian-target-di-smm-panel-indoboosterkencang77situs slot gacor
https://www.zeverix.comsmm indonesiakencang77smm panel termurahsmm panel terbaikreseller smm panelsmm panel indonesiakencang77Analisis Pola Interaksi Pengguna Ekosistem Hiburan Digital CloudEvaluasi Sistem Rekomendasi Konten Machine Learning Big DataPeran Arsitektur Data Pengalaman Hiburan Interaktif ImmersifStudi Komparatif Algoritma Pengacakan Platform Digital Monte CarloOptimasi User Interface Retensi Pengguna Berbasis PerilakuPendekatan Analitik Prediktif Tren Hiburan Digital Masa DepanTransformasi Infrastruktur Teknologi Ekosistem Hiburan Digital Skala BesarKecerdasan Buatan Analisis Keputusan Pengguna Platform DigitalDigitalisasi Pengalaman Hiburan Sistem Adaptif Berbasis AIEvaluasi Keandalan Sistem RNG Platform Digital ModernPenggunaan Data Telemetri Pola Sesi Pengguna Platform DigitalArsitektur Microservices Skalabilitas Industri Hiburan Digital KontemporerAnalisis Sentimen Pengguna Fitur Interaktif Platform Hiburan DigitalPeran Enkripsi Keamanan Data Kepercayaan Pengguna DigitalPendekatan Data-Driven Optimasi Navigasi Pengalaman Pengguna DigitalEfektivitas Gamifikasi Meningkatkan Engagement Pengguna DigitalAnalisis Komparatif Efisiensi Algoritma Sistem Hiburan DigitalPeran Big Data Deteksi Pola Perilaku Pengguna Platform DigitalInovasi Blockchain Potensi Ekosistem Hiburan Digital Masa DepanPendekatan Sistem Dinamis Feedback Loop Pengguna Platform Digitalhttps://indobooster.com/page/contoh-pengisian-target-di-smm-panel-indoboosterkencang77situs slot gacor

Blog

  • Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Jakarta – Polda Sumatera Selatan memulai pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan melalui peletakan batu pertama di lingkungan Mapolda Sumsel, Kamis (27/8). Pembangunan monumen ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Juang Polri yang bertujuan merawat sejarah, menghormati pengabdian para pendahulu, sekaligus mewariskan nilai perjuangan kepada generasi penerus Polri.
    Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Sandi Nugroho, didampingi Ketua Bhayangkari Daerah Sumatera Selatan Eka Sandi Nugroho. Turut mendampingi Wakapolda Sumsel dan jajaran Pejabat Utama Polda Sumsel.

    Monumen Juang Polisi dirancang bukan sekadar sebagai bangunan monumental, melainkan sebagai ruang ingatan yang menggambarkan perjalanan panjang kepolisian di Sumatera Selatan. Perjalanan tersebut terentang mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga pengabdian Polri kepada masyarakat pada era Presisi.

    Relief monumen akan memuat lima tema besar perjalanan kepolisian. Kelima tema itu meliputi masa penjajahan Belanda dan Jepang, pengibaran Merah Putih pada 1945, perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945-1949, pembentukan dan perkembangan Polda Sumsel, serta pengabdian Polda Sumsel kepada masyarakat pada masa kini.

    Salah satu peristiwa yang diabadikan adalah pengibaran Bendera Merah Putih di Kantor Polisi 10 Ulu Palembang pada akhir Agustus 1945. Sekitar 100 anggota polisi saat itu mengikuti upacara yang dilanjutkan dengan sumpah kesetiaan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

    Peristiwa tersebut menjadi salah satu penanda keberpihakan anggota kepolisian kepada Republik. Jejak perjuangan polisi bersama tentara, laskar, dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan juga menjadi bagian penting dari relief.

    Relief tersebut turut memuat Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang pada 1-5 Januari 1947. Kiprah sejumlah tokoh kepolisian dalam mempertahankan kemerdekaan hingga 1949 turut diabadikan.

    Karo SDM Polda Sumsel Sudrajat Hariwibowo, selaku Ketua Pelaksana Pembangunan Monumen, menegaskan komitmennya menggali sejarah perjuangan polisi di Sumatera Selatan.

    “Materi sejarah disusun dengan mengacu pada arsip dan dokumen kepolisian, literatur sejarah, dokumentasi foto dan media, serta keterangan keluarga maupun ahli waris pelaku sejarah. Salah satunya diperkuat melalui keterangan keluarga almarhum Agus Cik Bakri, yang telah dikunjungi secara langsung oleh Kapolda dalam kegiatan anjangsana,” ujar Sudrajat Hariwibowo, Karo SDM Polda Sumsel.

    Terkait detail dan ketahanan estetika, Karo SDM juga menyampaikan alasan spesifik pemilihan material monumen.

    “Lempengan relief akan dikerjakan oleh pengrajin dari Boyolali dengan menggunakan plat tembaga premium yang memiliki ketebalan dan berat keseluruhan kurang lebih 360 kilogram. Bahan tersebut dipilih agar bentuk ukiran dapat lebih timbul, detail relief lebih maksimal, serta memiliki kekuatan dan daya tahan yang panjang,” terang Sudrajat dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8/2026).

    Keseluruhan pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan ditargetkan selesai pada Oktober 2026.

    Selain merekam sejarah masa lalu, bagian relief juga akan menggambarkan wajah Polda Sumsel pada era Presisi. Gambaran ini mencakup pelayanan publik, ketahanan pangan, tata kelola sumur minyak masyarakat, Command Center, bantuan sosial, penyediaan air bersih, pembangunan infrastruktur, hingga sinergi Forkopimda sebagai Super Team.

    Kabid Humas Polda Sumsel Nandang Mu’min Wijaya mengatakan pembangunan monumen tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus pengingat bagi seluruh personel. Pengabdian Polri hari ini merupakan kelanjutan dari perjuangan para pendahulu.

    “Monumen ini bukan hanya untuk mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga untuk menghidupkan nilai perjuangan itu dalam setiap pelaksanaan tugas. Generasi Polri saat ini harus menjaga warisan tersebut melalui integritas, profesionalisme, prestasi, dan pengabdian terbaik kepada masyarakat,” ujar Nandang.

    Monumen yang mengusung semangat ‘Merawat Ingatan, Menghormati Pengabdian, dan Mewariskan Nilai Perjuangan’ itu diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi personel Polri, generasi muda, dan masyarakat mengenai perjalanan kepolisian di Bumi Sriwijaya.

    Melalui pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan, Polda Sumsel ingin memastikan sejarah perjuangan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Nilai keberanian, pengorbanan, kesetiaan kepada NKRI, serta pengabdian kepada masyarakat diharapkan terus hidup dan menjadi semangat bagi setiap personel.

    Setiap personel diharapkan tidak hanya menjadi pewaris sejarah, tetapi turut menciptakan sejarah melalui pengabdian terbaiknya.

  • Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Jakarta – Polda Sumatera Selatan memulai pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan melalui peletakan batu pertama di lingkungan Mapolda Sumsel, Kamis (27/8). Pembangunan monumen ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Juang Polri yang bertujuan merawat sejarah, menghormati pengabdian para pendahulu, sekaligus mewariskan nilai perjuangan kepada generasi penerus Polri.
    Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Sandi Nugroho, didampingi Ketua Bhayangkari Daerah Sumatera Selatan Eka Sandi Nugroho. Turut mendampingi Wakapolda Sumsel dan jajaran Pejabat Utama Polda Sumsel.

    Monumen Juang Polisi dirancang bukan sekadar sebagai bangunan monumental, melainkan sebagai ruang ingatan yang menggambarkan perjalanan panjang kepolisian di Sumatera Selatan. Perjalanan tersebut terentang mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga pengabdian Polri kepada masyarakat pada era Presisi.

    Relief monumen akan memuat lima tema besar perjalanan kepolisian. Kelima tema itu meliputi masa penjajahan Belanda dan Jepang, pengibaran Merah Putih pada 1945, perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945-1949, pembentukan dan perkembangan Polda Sumsel, serta pengabdian Polda Sumsel kepada masyarakat pada masa kini.

    Salah satu peristiwa yang diabadikan adalah pengibaran Bendera Merah Putih di Kantor Polisi 10 Ulu Palembang pada akhir Agustus 1945. Sekitar 100 anggota polisi saat itu mengikuti upacara yang dilanjutkan dengan sumpah kesetiaan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

    Peristiwa tersebut menjadi salah satu penanda keberpihakan anggota kepolisian kepada Republik. Jejak perjuangan polisi bersama tentara, laskar, dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan juga menjadi bagian penting dari relief.

    Relief tersebut turut memuat Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang pada 1-5 Januari 1947. Kiprah sejumlah tokoh kepolisian dalam mempertahankan kemerdekaan hingga 1949 turut diabadikan.

    Karo SDM Polda Sumsel Sudrajat Hariwibowo, selaku Ketua Pelaksana Pembangunan Monumen, menegaskan komitmennya menggali sejarah perjuangan polisi di Sumatera Selatan.

    “Materi sejarah disusun dengan mengacu pada arsip dan dokumen kepolisian, literatur sejarah, dokumentasi foto dan media, serta keterangan keluarga maupun ahli waris pelaku sejarah. Salah satunya diperkuat melalui keterangan keluarga almarhum Agus Cik Bakri, yang telah dikunjungi secara langsung oleh Kapolda dalam kegiatan anjangsana,” ujar Sudrajat Hariwibowo, Karo SDM Polda Sumsel.

    Terkait detail dan ketahanan estetika, Karo SDM juga menyampaikan alasan spesifik pemilihan material monumen.

    “Lempengan relief akan dikerjakan oleh pengrajin dari Boyolali dengan menggunakan plat tembaga premium yang memiliki ketebalan dan berat keseluruhan kurang lebih 360 kilogram. Bahan tersebut dipilih agar bentuk ukiran dapat lebih timbul, detail relief lebih maksimal, serta memiliki kekuatan dan daya tahan yang panjang,” terang Sudrajat dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8/2026).

    Keseluruhan pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan ditargetkan selesai pada Oktober 2026.

    Selain merekam sejarah masa lalu, bagian relief juga akan menggambarkan wajah Polda Sumsel pada era Presisi. Gambaran ini mencakup pelayanan publik, ketahanan pangan, tata kelola sumur minyak masyarakat, Command Center, bantuan sosial, penyediaan air bersih, pembangunan infrastruktur, hingga sinergi Forkopimda sebagai Super Team.

    Kabid Humas Polda Sumsel Nandang Mu’min Wijaya mengatakan pembangunan monumen tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus pengingat bagi seluruh personel. Pengabdian Polri hari ini merupakan kelanjutan dari perjuangan para pendahulu.

    “Monumen ini bukan hanya untuk mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga untuk menghidupkan nilai perjuangan itu dalam setiap pelaksanaan tugas. Generasi Polri saat ini harus menjaga warisan tersebut melalui integritas, profesionalisme, prestasi, dan pengabdian terbaik kepada masyarakat,” ujar Nandang.

    Monumen yang mengusung semangat ‘Merawat Ingatan, Menghormati Pengabdian, dan Mewariskan Nilai Perjuangan’ itu diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi personel Polri, generasi muda, dan masyarakat mengenai perjalanan kepolisian di Bumi Sriwijaya.

    Melalui pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan, Polda Sumsel ingin memastikan sejarah perjuangan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Nilai keberanian, pengorbanan, kesetiaan kepada NKRI, serta pengabdian kepada masyarakat diharapkan terus hidup dan menjadi semangat bagi setiap personel.

    Setiap personel diharapkan tidak hanya menjadi pewaris sejarah, tetapi turut menciptakan sejarah melalui pengabdian terbaiknya.

  • Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Jakarta – Polda Sumatera Selatan memulai pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan melalui peletakan batu pertama di lingkungan Mapolda Sumsel, Kamis (27/8). Pembangunan monumen ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Juang Polri yang bertujuan merawat sejarah, menghormati pengabdian para pendahulu, sekaligus mewariskan nilai perjuangan kepada generasi penerus Polri.
    Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Sandi Nugroho, didampingi Ketua Bhayangkari Daerah Sumatera Selatan Eka Sandi Nugroho. Turut mendampingi Wakapolda Sumsel dan jajaran Pejabat Utama Polda Sumsel.

    Monumen Juang Polisi dirancang bukan sekadar sebagai bangunan monumental, melainkan sebagai ruang ingatan yang menggambarkan perjalanan panjang kepolisian di Sumatera Selatan. Perjalanan tersebut terentang mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga pengabdian Polri kepada masyarakat pada era Presisi.

    Relief monumen akan memuat lima tema besar perjalanan kepolisian. Kelima tema itu meliputi masa penjajahan Belanda dan Jepang, pengibaran Merah Putih pada 1945, perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945-1949, pembentukan dan perkembangan Polda Sumsel, serta pengabdian Polda Sumsel kepada masyarakat pada masa kini.

    Salah satu peristiwa yang diabadikan adalah pengibaran Bendera Merah Putih di Kantor Polisi 10 Ulu Palembang pada akhir Agustus 1945. Sekitar 100 anggota polisi saat itu mengikuti upacara yang dilanjutkan dengan sumpah kesetiaan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

    Peristiwa tersebut menjadi salah satu penanda keberpihakan anggota kepolisian kepada Republik. Jejak perjuangan polisi bersama tentara, laskar, dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan juga menjadi bagian penting dari relief.

    Relief tersebut turut memuat Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang pada 1-5 Januari 1947. Kiprah sejumlah tokoh kepolisian dalam mempertahankan kemerdekaan hingga 1949 turut diabadikan.

    Karo SDM Polda Sumsel Sudrajat Hariwibowo, selaku Ketua Pelaksana Pembangunan Monumen, menegaskan komitmennya menggali sejarah perjuangan polisi di Sumatera Selatan.

    “Materi sejarah disusun dengan mengacu pada arsip dan dokumen kepolisian, literatur sejarah, dokumentasi foto dan media, serta keterangan keluarga maupun ahli waris pelaku sejarah. Salah satunya diperkuat melalui keterangan keluarga almarhum Agus Cik Bakri, yang telah dikunjungi secara langsung oleh Kapolda dalam kegiatan anjangsana,” ujar Sudrajat Hariwibowo, Karo SDM Polda Sumsel.

    Terkait detail dan ketahanan estetika, Karo SDM juga menyampaikan alasan spesifik pemilihan material monumen.

    “Lempengan relief akan dikerjakan oleh pengrajin dari Boyolali dengan menggunakan plat tembaga premium yang memiliki ketebalan dan berat keseluruhan kurang lebih 360 kilogram. Bahan tersebut dipilih agar bentuk ukiran dapat lebih timbul, detail relief lebih maksimal, serta memiliki kekuatan dan daya tahan yang panjang,” terang Sudrajat dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8/2026).

    Keseluruhan pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan ditargetkan selesai pada Oktober 2026.

    Selain merekam sejarah masa lalu, bagian relief juga akan menggambarkan wajah Polda Sumsel pada era Presisi. Gambaran ini mencakup pelayanan publik, ketahanan pangan, tata kelola sumur minyak masyarakat, Command Center, bantuan sosial, penyediaan air bersih, pembangunan infrastruktur, hingga sinergi Forkopimda sebagai Super Team.

    Kabid Humas Polda Sumsel Nandang Mu’min Wijaya mengatakan pembangunan monumen tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus pengingat bagi seluruh personel. Pengabdian Polri hari ini merupakan kelanjutan dari perjuangan para pendahulu.

    “Monumen ini bukan hanya untuk mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga untuk menghidupkan nilai perjuangan itu dalam setiap pelaksanaan tugas. Generasi Polri saat ini harus menjaga warisan tersebut melalui integritas, profesionalisme, prestasi, dan pengabdian terbaik kepada masyarakat,” ujar Nandang.

    Monumen yang mengusung semangat ‘Merawat Ingatan, Menghormati Pengabdian, dan Mewariskan Nilai Perjuangan’ itu diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi personel Polri, generasi muda, dan masyarakat mengenai perjalanan kepolisian di Bumi Sriwijaya.

    Melalui pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan, Polda Sumsel ingin memastikan sejarah perjuangan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Nilai keberanian, pengorbanan, kesetiaan kepada NKRI, serta pengabdian kepada masyarakat diharapkan terus hidup dan menjadi semangat bagi setiap personel.

    Setiap personel diharapkan tidak hanya menjadi pewaris sejarah, tetapi turut menciptakan sejarah melalui pengabdian terbaiknya.

  • Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Jakarta – Polda Sumatera Selatan memulai pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan melalui peletakan batu pertama di lingkungan Mapolda Sumsel, Kamis (27/8). Pembangunan monumen ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Juang Polri yang bertujuan merawat sejarah, menghormati pengabdian para pendahulu, sekaligus mewariskan nilai perjuangan kepada generasi penerus Polri.
    Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Sandi Nugroho, didampingi Ketua Bhayangkari Daerah Sumatera Selatan Eka Sandi Nugroho. Turut mendampingi Wakapolda Sumsel dan jajaran Pejabat Utama Polda Sumsel.

    Monumen Juang Polisi dirancang bukan sekadar sebagai bangunan monumental, melainkan sebagai ruang ingatan yang menggambarkan perjalanan panjang kepolisian di Sumatera Selatan. Perjalanan tersebut terentang mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga pengabdian Polri kepada masyarakat pada era Presisi.

    Relief monumen akan memuat lima tema besar perjalanan kepolisian. Kelima tema itu meliputi masa penjajahan Belanda dan Jepang, pengibaran Merah Putih pada 1945, perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945-1949, pembentukan dan perkembangan Polda Sumsel, serta pengabdian Polda Sumsel kepada masyarakat pada masa kini.

    Salah satu peristiwa yang diabadikan adalah pengibaran Bendera Merah Putih di Kantor Polisi 10 Ulu Palembang pada akhir Agustus 1945. Sekitar 100 anggota polisi saat itu mengikuti upacara yang dilanjutkan dengan sumpah kesetiaan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

    Peristiwa tersebut menjadi salah satu penanda keberpihakan anggota kepolisian kepada Republik. Jejak perjuangan polisi bersama tentara, laskar, dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan juga menjadi bagian penting dari relief.

    Relief tersebut turut memuat Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang pada 1-5 Januari 1947. Kiprah sejumlah tokoh kepolisian dalam mempertahankan kemerdekaan hingga 1949 turut diabadikan.

    Karo SDM Polda Sumsel Sudrajat Hariwibowo, selaku Ketua Pelaksana Pembangunan Monumen, menegaskan komitmennya menggali sejarah perjuangan polisi di Sumatera Selatan.

    “Materi sejarah disusun dengan mengacu pada arsip dan dokumen kepolisian, literatur sejarah, dokumentasi foto dan media, serta keterangan keluarga maupun ahli waris pelaku sejarah. Salah satunya diperkuat melalui keterangan keluarga almarhum Agus Cik Bakri, yang telah dikunjungi secara langsung oleh Kapolda dalam kegiatan anjangsana,” ujar Sudrajat Hariwibowo, Karo SDM Polda Sumsel.

    Terkait detail dan ketahanan estetika, Karo SDM juga menyampaikan alasan spesifik pemilihan material monumen.

    “Lempengan relief akan dikerjakan oleh pengrajin dari Boyolali dengan menggunakan plat tembaga premium yang memiliki ketebalan dan berat keseluruhan kurang lebih 360 kilogram. Bahan tersebut dipilih agar bentuk ukiran dapat lebih timbul, detail relief lebih maksimal, serta memiliki kekuatan dan daya tahan yang panjang,” terang Sudrajat dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8/2026).

    Keseluruhan pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan ditargetkan selesai pada Oktober 2026.

    Selain merekam sejarah masa lalu, bagian relief juga akan menggambarkan wajah Polda Sumsel pada era Presisi. Gambaran ini mencakup pelayanan publik, ketahanan pangan, tata kelola sumur minyak masyarakat, Command Center, bantuan sosial, penyediaan air bersih, pembangunan infrastruktur, hingga sinergi Forkopimda sebagai Super Team.

    Kabid Humas Polda Sumsel Nandang Mu’min Wijaya mengatakan pembangunan monumen tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus pengingat bagi seluruh personel. Pengabdian Polri hari ini merupakan kelanjutan dari perjuangan para pendahulu.

    “Monumen ini bukan hanya untuk mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga untuk menghidupkan nilai perjuangan itu dalam setiap pelaksanaan tugas. Generasi Polri saat ini harus menjaga warisan tersebut melalui integritas, profesionalisme, prestasi, dan pengabdian terbaik kepada masyarakat,” ujar Nandang.

    Monumen yang mengusung semangat ‘Merawat Ingatan, Menghormati Pengabdian, dan Mewariskan Nilai Perjuangan’ itu diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi personel Polri, generasi muda, dan masyarakat mengenai perjalanan kepolisian di Bumi Sriwijaya.

    Melalui pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan, Polda Sumsel ingin memastikan sejarah perjuangan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Nilai keberanian, pengorbanan, kesetiaan kepada NKRI, serta pengabdian kepada masyarakat diharapkan terus hidup dan menjadi semangat bagi setiap personel.

    Setiap personel diharapkan tidak hanya menjadi pewaris sejarah, tetapi turut menciptakan sejarah melalui pengabdian terbaiknya.

  • Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Jakarta – Polda Sumatera Selatan memulai pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan melalui peletakan batu pertama di lingkungan Mapolda Sumsel, Kamis (27/8). Pembangunan monumen ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Juang Polri yang bertujuan merawat sejarah, menghormati pengabdian para pendahulu, sekaligus mewariskan nilai perjuangan kepada generasi penerus Polri.
    Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Sandi Nugroho, didampingi Ketua Bhayangkari Daerah Sumatera Selatan Eka Sandi Nugroho. Turut mendampingi Wakapolda Sumsel dan jajaran Pejabat Utama Polda Sumsel.

    Monumen Juang Polisi dirancang bukan sekadar sebagai bangunan monumental, melainkan sebagai ruang ingatan yang menggambarkan perjalanan panjang kepolisian di Sumatera Selatan. Perjalanan tersebut terentang mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga pengabdian Polri kepada masyarakat pada era Presisi.

    Relief monumen akan memuat lima tema besar perjalanan kepolisian. Kelima tema itu meliputi masa penjajahan Belanda dan Jepang, pengibaran Merah Putih pada 1945, perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945-1949, pembentukan dan perkembangan Polda Sumsel, serta pengabdian Polda Sumsel kepada masyarakat pada masa kini.

    Salah satu peristiwa yang diabadikan adalah pengibaran Bendera Merah Putih di Kantor Polisi 10 Ulu Palembang pada akhir Agustus 1945. Sekitar 100 anggota polisi saat itu mengikuti upacara yang dilanjutkan dengan sumpah kesetiaan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

    Peristiwa tersebut menjadi salah satu penanda keberpihakan anggota kepolisian kepada Republik. Jejak perjuangan polisi bersama tentara, laskar, dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan juga menjadi bagian penting dari relief.

    Relief tersebut turut memuat Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang pada 1-5 Januari 1947. Kiprah sejumlah tokoh kepolisian dalam mempertahankan kemerdekaan hingga 1949 turut diabadikan.

    Karo SDM Polda Sumsel Sudrajat Hariwibowo, selaku Ketua Pelaksana Pembangunan Monumen, menegaskan komitmennya menggali sejarah perjuangan polisi di Sumatera Selatan.

    “Materi sejarah disusun dengan mengacu pada arsip dan dokumen kepolisian, literatur sejarah, dokumentasi foto dan media, serta keterangan keluarga maupun ahli waris pelaku sejarah. Salah satunya diperkuat melalui keterangan keluarga almarhum Agus Cik Bakri, yang telah dikunjungi secara langsung oleh Kapolda dalam kegiatan anjangsana,” ujar Sudrajat Hariwibowo, Karo SDM Polda Sumsel.

    Terkait detail dan ketahanan estetika, Karo SDM juga menyampaikan alasan spesifik pemilihan material monumen.

    “Lempengan relief akan dikerjakan oleh pengrajin dari Boyolali dengan menggunakan plat tembaga premium yang memiliki ketebalan dan berat keseluruhan kurang lebih 360 kilogram. Bahan tersebut dipilih agar bentuk ukiran dapat lebih timbul, detail relief lebih maksimal, serta memiliki kekuatan dan daya tahan yang panjang,” terang Sudrajat dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8/2026).

    Keseluruhan pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan ditargetkan selesai pada Oktober 2026.

    Selain merekam sejarah masa lalu, bagian relief juga akan menggambarkan wajah Polda Sumsel pada era Presisi. Gambaran ini mencakup pelayanan publik, ketahanan pangan, tata kelola sumur minyak masyarakat, Command Center, bantuan sosial, penyediaan air bersih, pembangunan infrastruktur, hingga sinergi Forkopimda sebagai Super Team.

    Kabid Humas Polda Sumsel Nandang Mu’min Wijaya mengatakan pembangunan monumen tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus pengingat bagi seluruh personel. Pengabdian Polri hari ini merupakan kelanjutan dari perjuangan para pendahulu.

    “Monumen ini bukan hanya untuk mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga untuk menghidupkan nilai perjuangan itu dalam setiap pelaksanaan tugas. Generasi Polri saat ini harus menjaga warisan tersebut melalui integritas, profesionalisme, prestasi, dan pengabdian terbaik kepada masyarakat,” ujar Nandang.

    Monumen yang mengusung semangat ‘Merawat Ingatan, Menghormati Pengabdian, dan Mewariskan Nilai Perjuangan’ itu diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi personel Polri, generasi muda, dan masyarakat mengenai perjalanan kepolisian di Bumi Sriwijaya.

    Melalui pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan, Polda Sumsel ingin memastikan sejarah perjuangan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Nilai keberanian, pengorbanan, kesetiaan kepada NKRI, serta pengabdian kepada masyarakat diharapkan terus hidup dan menjadi semangat bagi setiap personel.

    Setiap personel diharapkan tidak hanya menjadi pewaris sejarah, tetapi turut menciptakan sejarah melalui pengabdian terbaiknya.

  • Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Kapolda Sumsel Pimpin Peletakan Batu Pertama Monumen Juang Polisi

    Jakarta – Polda Sumatera Selatan memulai pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan melalui peletakan batu pertama di lingkungan Mapolda Sumsel, Kamis (27/8). Pembangunan monumen ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Juang Polri yang bertujuan merawat sejarah, menghormati pengabdian para pendahulu, sekaligus mewariskan nilai perjuangan kepada generasi penerus Polri.
    Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Sandi Nugroho, didampingi Ketua Bhayangkari Daerah Sumatera Selatan Eka Sandi Nugroho. Turut mendampingi Wakapolda Sumsel dan jajaran Pejabat Utama Polda Sumsel.

    Monumen Juang Polisi dirancang bukan sekadar sebagai bangunan monumental, melainkan sebagai ruang ingatan yang menggambarkan perjalanan panjang kepolisian di Sumatera Selatan. Perjalanan tersebut terentang mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga pengabdian Polri kepada masyarakat pada era Presisi.

    Relief monumen akan memuat lima tema besar perjalanan kepolisian. Kelima tema itu meliputi masa penjajahan Belanda dan Jepang, pengibaran Merah Putih pada 1945, perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945-1949, pembentukan dan perkembangan Polda Sumsel, serta pengabdian Polda Sumsel kepada masyarakat pada masa kini.

    Salah satu peristiwa yang diabadikan adalah pengibaran Bendera Merah Putih di Kantor Polisi 10 Ulu Palembang pada akhir Agustus 1945. Sekitar 100 anggota polisi saat itu mengikuti upacara yang dilanjutkan dengan sumpah kesetiaan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

    Peristiwa tersebut menjadi salah satu penanda keberpihakan anggota kepolisian kepada Republik. Jejak perjuangan polisi bersama tentara, laskar, dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan juga menjadi bagian penting dari relief.

    Relief tersebut turut memuat Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang pada 1-5 Januari 1947. Kiprah sejumlah tokoh kepolisian dalam mempertahankan kemerdekaan hingga 1949 turut diabadikan.

    Karo SDM Polda Sumsel Sudrajat Hariwibowo, selaku Ketua Pelaksana Pembangunan Monumen, menegaskan komitmennya menggali sejarah perjuangan polisi di Sumatera Selatan.

    “Materi sejarah disusun dengan mengacu pada arsip dan dokumen kepolisian, literatur sejarah, dokumentasi foto dan media, serta keterangan keluarga maupun ahli waris pelaku sejarah. Salah satunya diperkuat melalui keterangan keluarga almarhum Agus Cik Bakri, yang telah dikunjungi secara langsung oleh Kapolda dalam kegiatan anjangsana,” ujar Sudrajat Hariwibowo, Karo SDM Polda Sumsel.

    Terkait detail dan ketahanan estetika, Karo SDM juga menyampaikan alasan spesifik pemilihan material monumen.

    “Lempengan relief akan dikerjakan oleh pengrajin dari Boyolali dengan menggunakan plat tembaga premium yang memiliki ketebalan dan berat keseluruhan kurang lebih 360 kilogram. Bahan tersebut dipilih agar bentuk ukiran dapat lebih timbul, detail relief lebih maksimal, serta memiliki kekuatan dan daya tahan yang panjang,” terang Sudrajat dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8/2026).

    Keseluruhan pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan ditargetkan selesai pada Oktober 2026.

    Selain merekam sejarah masa lalu, bagian relief juga akan menggambarkan wajah Polda Sumsel pada era Presisi. Gambaran ini mencakup pelayanan publik, ketahanan pangan, tata kelola sumur minyak masyarakat, Command Center, bantuan sosial, penyediaan air bersih, pembangunan infrastruktur, hingga sinergi Forkopimda sebagai Super Team.

    Kabid Humas Polda Sumsel Nandang Mu’min Wijaya mengatakan pembangunan monumen tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus pengingat bagi seluruh personel. Pengabdian Polri hari ini merupakan kelanjutan dari perjuangan para pendahulu.

    “Monumen ini bukan hanya untuk mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga untuk menghidupkan nilai perjuangan itu dalam setiap pelaksanaan tugas. Generasi Polri saat ini harus menjaga warisan tersebut melalui integritas, profesionalisme, prestasi, dan pengabdian terbaik kepada masyarakat,” ujar Nandang.

    Monumen yang mengusung semangat ‘Merawat Ingatan, Menghormati Pengabdian, dan Mewariskan Nilai Perjuangan’ itu diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi personel Polri, generasi muda, dan masyarakat mengenai perjalanan kepolisian di Bumi Sriwijaya.

    Melalui pembangunan Monumen Juang Polisi Sumatera Selatan, Polda Sumsel ingin memastikan sejarah perjuangan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Nilai keberanian, pengorbanan, kesetiaan kepada NKRI, serta pengabdian kepada masyarakat diharapkan terus hidup dan menjadi semangat bagi setiap personel.

    Setiap personel diharapkan tidak hanya menjadi pewaris sejarah, tetapi turut menciptakan sejarah melalui pengabdian terbaiknya.

  • Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    Kapolda Sumsel Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    PALEMBANG — Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum., bersama unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga mengikuti Shalat Istisqa berjamaah di Halaman Griya Agung Palembang, Selasa (25/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk memohon rahmat dan pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun di wilayah Sumatera Selatan.

     

    Shalat Istisqa dilaksanakan di tengah kondisi musim kemarau yang berpotensi menimbulkan kekeringan sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Ikhtiar spiritual tersebut menjadi bagian dari kepedulian bersama menghadapi dampak kondisi cuaca yang terjadi.

     

    Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB dengan pembukaan dan sambutan Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M., kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Shalat Istisqa berjamaah, ceramah agama, dan doa bersama agar Sumatera Selatan segera memperoleh hujan yang bermanfaat.

     

    Kapolda Sumsel hadir bersama sejumlah Pejabat Utama Polda Sumsel, di antaranya Karo SDM Polda Sumsel Kombes Pol. Sudrajad Hariwibowo, S.I.K., M.Si., Dir Samapta Polda Sumsel Kombes Pol. Ridwan Raja Dewa, S.I.K., Dir Polairud Polda Sumsel Kombes Pol. Heru Agung Nugroho, S.I.K., Kabid Propam Polda Sumsel Kombes Pol. Raden Azis Safiri, S.I.K., CPHR., Kabid Kum Polda Sumsel Kombes Pol. Sigit Adiwuryanto, S.I.K., serta perwakilan personel Polda Sumsel.

     

    Shalat Istisqa tersebut diikuti unsur pemerintah daerah, kepolisian, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Seluruh peserta bersama-sama memanjatkan doa agar hujan segera turun sehingga kondisi kemarau dan berbagai dampaknya dapat segera teratasi.

     

    Sejumlah pejabat daerah turut hadir, di antaranya Gubernur Sumsel Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M., perwakilan Pangdam II/Sriwijaya, Kajati Sumsel Nurcahyo, J.M., S.H., M.H., Sekda Prov. Sumsel Dr. Drs. H. Edward Candra, M.H., Danlanal Palembang Kolonel Laut (P) Arry Hendrawan, M.Tr.Opsla., Danlanud SMH Palembang Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya, M.M.S., Wali Kota Palembang Drs. H. Ratu Dewa, M.Si., para Kepala OPD Provinsi Sumsel, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.

     

    Kebersamaan tersebut mencerminkan kepedulian lintas elemen dalam menghadapi tantangan kekeringan, cuaca ekstrem, dan potensi karhutla. Selain ikhtiar spiritual melalui doa bersama, sinergi seluruh unsur tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai dampak musim kemarau di Sumatera Selatan.

     

    Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H., mengatakan keikutsertaan Kapolda Sumsel beserta jajaran dalam Shalat Istisqa merupakan wujud kepedulian Polri terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat.

     

    “Polri tidak hanya hadir dalam menjaga kamtibmas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar bersama ketika masyarakat menghadapi kondisi seperti musim kemarau dan ancaman karhutla. Semoga doa yang dipanjatkan bersama menjadi ikhtiar agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat bagi masyarakat Sumatera Selatan,” ujar Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H.

     

    Menurutnya, kebersamaan antara ulama, umara, aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat merupakan kekuatan penting dalam menghadapi berbagai tantangan di daerah. Ikhtiar spiritual tersebut diharapkan berjalan seiring dengan langkah nyata pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mengantisipasi dampak musim kemarau.

     

    Melalui Shalat Istisqa di Griya Agung, jajaran Polda Sumsel bersama Forkopimda dan masyarakat meneguhkan semangat kebersamaan dalam menghadapi kondisi kemarau. Doa bersama tersebut menjadi ikhtiar untuk memohon turunnya hujan yang membawa keberkahan, kesuburan, serta kesejukan bagi Sumatera Selatan dan sekitarnya.

  • Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    Kapolda Sumsel Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    PALEMBANG — Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum., bersama unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga mengikuti Shalat Istisqa berjamaah di Halaman Griya Agung Palembang, Selasa (25/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk memohon rahmat dan pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun di wilayah Sumatera Selatan.

     

    Shalat Istisqa dilaksanakan di tengah kondisi musim kemarau yang berpotensi menimbulkan kekeringan sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Ikhtiar spiritual tersebut menjadi bagian dari kepedulian bersama menghadapi dampak kondisi cuaca yang terjadi.

     

    Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB dengan pembukaan dan sambutan Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M., kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Shalat Istisqa berjamaah, ceramah agama, dan doa bersama agar Sumatera Selatan segera memperoleh hujan yang bermanfaat.

     

    Kapolda Sumsel hadir bersama sejumlah Pejabat Utama Polda Sumsel, di antaranya Karo SDM Polda Sumsel Kombes Pol. Sudrajad Hariwibowo, S.I.K., M.Si., Dir Samapta Polda Sumsel Kombes Pol. Ridwan Raja Dewa, S.I.K., Dir Polairud Polda Sumsel Kombes Pol. Heru Agung Nugroho, S.I.K., Kabid Propam Polda Sumsel Kombes Pol. Raden Azis Safiri, S.I.K., CPHR., Kabid Kum Polda Sumsel Kombes Pol. Sigit Adiwuryanto, S.I.K., serta perwakilan personel Polda Sumsel.

     

    Shalat Istisqa tersebut diikuti unsur pemerintah daerah, kepolisian, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Seluruh peserta bersama-sama memanjatkan doa agar hujan segera turun sehingga kondisi kemarau dan berbagai dampaknya dapat segera teratasi.

     

    Sejumlah pejabat daerah turut hadir, di antaranya Gubernur Sumsel Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M., perwakilan Pangdam II/Sriwijaya, Kajati Sumsel Nurcahyo, J.M., S.H., M.H., Sekda Prov. Sumsel Dr. Drs. H. Edward Candra, M.H., Danlanal Palembang Kolonel Laut (P) Arry Hendrawan, M.Tr.Opsla., Danlanud SMH Palembang Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya, M.M.S., Wali Kota Palembang Drs. H. Ratu Dewa, M.Si., para Kepala OPD Provinsi Sumsel, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.

     

    Kebersamaan tersebut mencerminkan kepedulian lintas elemen dalam menghadapi tantangan kekeringan, cuaca ekstrem, dan potensi karhutla. Selain ikhtiar spiritual melalui doa bersama, sinergi seluruh unsur tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai dampak musim kemarau di Sumatera Selatan.

     

    Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H., mengatakan keikutsertaan Kapolda Sumsel beserta jajaran dalam Shalat Istisqa merupakan wujud kepedulian Polri terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat.

     

    “Polri tidak hanya hadir dalam menjaga kamtibmas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar bersama ketika masyarakat menghadapi kondisi seperti musim kemarau dan ancaman karhutla. Semoga doa yang dipanjatkan bersama menjadi ikhtiar agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat bagi masyarakat Sumatera Selatan,” ujar Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H.

     

    Menurutnya, kebersamaan antara ulama, umara, aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat merupakan kekuatan penting dalam menghadapi berbagai tantangan di daerah. Ikhtiar spiritual tersebut diharapkan berjalan seiring dengan langkah nyata pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mengantisipasi dampak musim kemarau.

     

    Melalui Shalat Istisqa di Griya Agung, jajaran Polda Sumsel bersama Forkopimda dan masyarakat meneguhkan semangat kebersamaan dalam menghadapi kondisi kemarau. Doa bersama tersebut menjadi ikhtiar untuk memohon turunnya hujan yang membawa keberkahan, kesuburan, serta kesejukan bagi Sumatera Selatan dan sekitarnya.

  • Kapolda Sumsel Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    Kapolda Sumsel Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    Kapolda Sumsel Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    PALEMBANG — Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum., bersama unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga mengikuti Shalat Istisqa berjamaah di Halaman Griya Agung Palembang, Selasa (25/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk memohon rahmat dan pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun di wilayah Sumatera Selatan.

     

    Shalat Istisqa dilaksanakan di tengah kondisi musim kemarau yang berpotensi menimbulkan kekeringan sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Ikhtiar spiritual tersebut menjadi bagian dari kepedulian bersama menghadapi dampak kondisi cuaca yang terjadi.

     

    Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB dengan pembukaan dan sambutan Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M., kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Shalat Istisqa berjamaah, ceramah agama, dan doa bersama agar Sumatera Selatan segera memperoleh hujan yang bermanfaat.

     

    Kapolda Sumsel hadir bersama sejumlah Pejabat Utama Polda Sumsel, di antaranya Karo SDM Polda Sumsel Kombes Pol. Sudrajad Hariwibowo, S.I.K., M.Si., Dir Samapta Polda Sumsel Kombes Pol. Ridwan Raja Dewa, S.I.K., Dir Polairud Polda Sumsel Kombes Pol. Heru Agung Nugroho, S.I.K., Kabid Propam Polda Sumsel Kombes Pol. Raden Azis Safiri, S.I.K., CPHR., Kabid Kum Polda Sumsel Kombes Pol. Sigit Adiwuryanto, S.I.K., serta perwakilan personel Polda Sumsel.

     

    Shalat Istisqa tersebut diikuti unsur pemerintah daerah, kepolisian, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Seluruh peserta bersama-sama memanjatkan doa agar hujan segera turun sehingga kondisi kemarau dan berbagai dampaknya dapat segera teratasi.

     

    Sejumlah pejabat daerah turut hadir, di antaranya Gubernur Sumsel Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M., perwakilan Pangdam II/Sriwijaya, Kajati Sumsel Nurcahyo, J.M., S.H., M.H., Sekda Prov. Sumsel Dr. Drs. H. Edward Candra, M.H., Danlanal Palembang Kolonel Laut (P) Arry Hendrawan, M.Tr.Opsla., Danlanud SMH Palembang Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya, M.M.S., Wali Kota Palembang Drs. H. Ratu Dewa, M.Si., para Kepala OPD Provinsi Sumsel, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.

     

    Kebersamaan tersebut mencerminkan kepedulian lintas elemen dalam menghadapi tantangan kekeringan, cuaca ekstrem, dan potensi karhutla. Selain ikhtiar spiritual melalui doa bersama, sinergi seluruh unsur tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai dampak musim kemarau di Sumatera Selatan.

     

    Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H., mengatakan keikutsertaan Kapolda Sumsel beserta jajaran dalam Shalat Istisqa merupakan wujud kepedulian Polri terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat.

     

    “Polri tidak hanya hadir dalam menjaga kamtibmas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar bersama ketika masyarakat menghadapi kondisi seperti musim kemarau dan ancaman karhutla. Semoga doa yang dipanjatkan bersama menjadi ikhtiar agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat bagi masyarakat Sumatera Selatan,” ujar Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H.

     

    Menurutnya, kebersamaan antara ulama, umara, aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat merupakan kekuatan penting dalam menghadapi berbagai tantangan di daerah. Ikhtiar spiritual tersebut diharapkan berjalan seiring dengan langkah nyata pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mengantisipasi dampak musim kemarau.

     

    Melalui Shalat Istisqa di Griya Agung, jajaran Polda Sumsel bersama Forkopimda dan masyarakat meneguhkan semangat kebersamaan dalam menghadapi kondisi kemarau. Doa bersama tersebut menjadi ikhtiar untuk memohon turunnya hujan yang membawa keberkahan, kesuburan, serta kesejukan bagi Sumatera Selatan dan sekitarnya.

  • Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    Kapolda Sumsel Ikuti Shalat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

    PALEMBANG — Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum., bersama unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga mengikuti Shalat Istisqa berjamaah di Halaman Griya Agung Palembang, Selasa (25/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk memohon rahmat dan pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun di wilayah Sumatera Selatan.

     

    Shalat Istisqa dilaksanakan di tengah kondisi musim kemarau yang berpotensi menimbulkan kekeringan sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Ikhtiar spiritual tersebut menjadi bagian dari kepedulian bersama menghadapi dampak kondisi cuaca yang terjadi.

     

    Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB dengan pembukaan dan sambutan Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M., kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Shalat Istisqa berjamaah, ceramah agama, dan doa bersama agar Sumatera Selatan segera memperoleh hujan yang bermanfaat.

     

    Kapolda Sumsel hadir bersama sejumlah Pejabat Utama Polda Sumsel, di antaranya Karo SDM Polda Sumsel Kombes Pol. Sudrajad Hariwibowo, S.I.K., M.Si., Dir Samapta Polda Sumsel Kombes Pol. Ridwan Raja Dewa, S.I.K., Dir Polairud Polda Sumsel Kombes Pol. Heru Agung Nugroho, S.I.K., Kabid Propam Polda Sumsel Kombes Pol. Raden Azis Safiri, S.I.K., CPHR., Kabid Kum Polda Sumsel Kombes Pol. Sigit Adiwuryanto, S.I.K., serta perwakilan personel Polda Sumsel.

     

    Shalat Istisqa tersebut diikuti unsur pemerintah daerah, kepolisian, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Seluruh peserta bersama-sama memanjatkan doa agar hujan segera turun sehingga kondisi kemarau dan berbagai dampaknya dapat segera teratasi.

     

    Sejumlah pejabat daerah turut hadir, di antaranya Gubernur Sumsel Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M., perwakilan Pangdam II/Sriwijaya, Kajati Sumsel Nurcahyo, J.M., S.H., M.H., Sekda Prov. Sumsel Dr. Drs. H. Edward Candra, M.H., Danlanal Palembang Kolonel Laut (P) Arry Hendrawan, M.Tr.Opsla., Danlanud SMH Palembang Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya, M.M.S., Wali Kota Palembang Drs. H. Ratu Dewa, M.Si., para Kepala OPD Provinsi Sumsel, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.

     

    Kebersamaan tersebut mencerminkan kepedulian lintas elemen dalam menghadapi tantangan kekeringan, cuaca ekstrem, dan potensi karhutla. Selain ikhtiar spiritual melalui doa bersama, sinergi seluruh unsur tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai dampak musim kemarau di Sumatera Selatan.

     

    Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H., mengatakan keikutsertaan Kapolda Sumsel beserta jajaran dalam Shalat Istisqa merupakan wujud kepedulian Polri terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat.

     

    “Polri tidak hanya hadir dalam menjaga kamtibmas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar bersama ketika masyarakat menghadapi kondisi seperti musim kemarau dan ancaman karhutla. Semoga doa yang dipanjatkan bersama menjadi ikhtiar agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat bagi masyarakat Sumatera Selatan,” ujar Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H.

     

    Menurutnya, kebersamaan antara ulama, umara, aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat merupakan kekuatan penting dalam menghadapi berbagai tantangan di daerah. Ikhtiar spiritual tersebut diharapkan berjalan seiring dengan langkah nyata pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mengantisipasi dampak musim kemarau.

     

    Melalui Shalat Istisqa di Griya Agung, jajaran Polda Sumsel bersama Forkopimda dan masyarakat meneguhkan semangat kebersamaan dalam menghadapi kondisi kemarau. Doa bersama tersebut menjadi ikhtiar untuk memohon turunnya hujan yang membawa keberkahan, kesuburan, serta kesejukan bagi Sumatera Selatan dan sekitarnya.